"verba volant scripta manent"

Home Top Ad

senja dan pertemuan dengan Maha Pencipta Hidup dalam keluarga yang sederhana, nyaman dan harmonis merupakan karunia yang tak mampu unt...

Bertani, Beternak dan Berpendidikan

senja dan pertemuan dengan Maha Pencipta
Hidup dalam keluarga yang sederhana, nyaman dan harmonis merupakan karunia yang tak mampu untuk dibahasakan oleh lisan. Selalu saja ada kesan-kesan tersendiri ketika orang tuaku mengajak pergi berkebun atau mencari makanan ternak. Sejak masih kelas 4 sekolah dasar, tata’ku (Ayah) sudah memberikan sebuah tanggung jawab. Memelihara kambing sebanyak 3 ekor, dan alhasil berawal dari situ hingga suatu hari kambing saya mencapai 20 ekor lebih dan selama 6 tahun saya melakoni pekerjaan ini sebagai gembala kambing sampai akhirnya beralih memelihara sapi. Ada pesan ayah yang masih kuat dalam ingatan ketika saya masih duduk kelas 3 SMP, “sekarang sapi lagi nu pelihara, jadi pas ko kuliah nanti jualmi itu sapi pake biaya masuk kuliah”. Mendengar kata-kata itu, saya hanya tersenyum. Pemikiran saya belum sampai kesana sementara tata’ku sudah jauh sekali memikirkan masa depan saya.

Apa yang pernah di katakan oleh tata’ku ternyata benar. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, sapi jantan yang ku pelihara selama tiga tahun juga sudah siap untuk di tukar dengan rupiah sekaligus menjadi biaya awal untuk melanjutkan pedidikan di tingkat Universitas. Jika dulunya saya hanya tersenyum saat di beri tahukan nasehat sederhana itu, sekarang saya sudah mulai berpikir bahwa seorang ayah tingkat pemikirannya jauh lebih tajam untuk masa depan anaknya.

Ada pesan sederhana lagi yang beliau pernah sampaikan ketika jalan-jalan ke kebun, orang dulu menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting, sehingga mereka sering berkata “Kau sikola, nakke parakai capi, kau tamma’, nakke guppa capi lompo lani balukang” (kamu sekolah, saya pelihara sapi, kamu lulus, saya dapat sapi besar yang siap jual). Tata’ku memiliki pemikiran yang berbeda, bahwa di sekolah tidak harus sepanjang hari di sana, karena itu bagaimana kalau sambil menuntut ilmu secara formal juga melakukan aktivitas lain sehingga keduanya bisa di dapat secara bersamaan.

Tata’ku adalah orang yang demokratis, Dia menyuruhku menjadi apa yang saya mau selama bisa bertanggung jawab untuk diri sendiri serta tetap menjaga nama baik keluarga. Pendidikan adalah wajib kemanapun harus di tuntut, apa lagi ilmu agama. Sebagai orang yang di tokohkan dalam masyarakat, beliau selalu berpesan kepada saya bahwa bukanlah hal yang mudah menjadi orang yang di pentingkan, sebab tanggung jawabnya bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada Tuhan.

Beliau bukanlah sosok ayah yang harus di takuti oleh anaknya, tetapi Dia bisa menjadi seseorang sesuai dengan kebutuhan anaknya, kadang menjadi guru yang bijak dalam menyampaikan pesan-pesan kehidupan yang bermakna, adakalanya menjadi sosok sahabat yang bisa di tempati untuk bercanda, mencurahkan keresahan dan kebahagaian serta menjadi panutan ketika ingin mengambil sebuah keputusan.

******

Terkadang kita terlalu resah memikirkan masa depan, namun tidak mempersiapkan apa yang di butuhkan untuk masa depan itu. Adakalanya juga menjalani hidup sekarang merasa terlalu berat tanpa pernah menoleh ke masa lalu bahwa kita pernah melewati masa-masa tersulit namun bisa di lalui.

Seperti apapun kita sekarang dan nantinya, itu tidak lepas dari do’a-do’a keluarga yang begitu tulus berharap kepada Tuhan agar kita bisa menjadi orang yang sukses serta rasa tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri dan keluarga. Bukanlah kita yang cerdas, namun orang tualah yang cerdas telah melahirkan generasi luar biasa dengan cara mendidik yang bijaksana demi kebaikan anaknya.

0 coment�rios:

Terima kasih telah berkunjung

View Post

PERTAMA DI SUL-SEL: PUSKESMAS SINOA BERINOVASI MEMBENTUK FMPP DAN SASKIA

Pertemuan antara Pengurus Forum Masyarakat Peduli Puskesmas dengan Camat Sinoa dan Kepala Puskesmas Sinoa yang bertempat di Puskesmas Sin...