"verba volant scripta manent"

Home Top Ad

Foto : www.alexandriaslens.com Generasi kekeninian, milenial, jaman now dan masih banyak lagi istilah-istilah lain yang belum sempa...

HIJRAHMU PALSU, MUNGKIN SEBAIKNYA BEGINI

Foto : www.alexandriaslens.com


Generasi kekeninian, milenial, jaman now dan masih banyak lagi istilah-istilah lain yang belum sempat tersebutkan. Namun tiga istilah paling familiar diatas telah mampu menggambarkan secara keseluruhan generasi muda dan hampir tua saat ini. Dari yang buruk hingga yang santun dalam berakhlak, dari yang pandai dalam prestasi hingga yang ahli membuat sensasi.

Bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk mencermati seperti apa kondisi yang terjadi saat ini. Karena dari kejadian yang paling tidak bermutu sampai pada kejadian-kejadian yang mencengangkan dapat kita lihat hanya dengan menggunakan jempol. Era digital telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan manusia.

Diakui atau tidak, kondisi kehidupan manusia saat ini selalu ingin manusia-manusia yang lain tahu apa-apa saja aktivitasnya dan seperti apa keadaan perasaannya. Jempol telah merampas sebagian hak mulut untuk menyampaikan. Gadget telah merebut sepertiga hak siang dan malam untuk di pandang dan dinikmati bising juga heningnya.

Namun dari sekian banyak yang hanya piawai dalam menebar sensasi seolah mereka hidup abadi, ternyata masih ada orang-orang yang cerdas dalam mengingatkan. Bahwa hidup bukan kemarin, hari ini dan besok saja. Setelah hidup, ada mati lalu hidup kembali untuk menuju majelis pertanggung jawaban individual.

Keseringan kaum muda-mudi hanya rindu malam pertama setelah ijab kabul terucap, tapi lupa kalau ternyata masih ada malam pertama yang jauh lebih menakjubkan selepas kematian. Lebih sering memamerkan segala hal di media sosial ketimbang menyimpannya sebagai oleh-oleh kenangan.

Terlepas dari dampak tidak baiknya bercengkarama dengan teknologi, masih ada banyak orang yang bisa memetik manfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka mulai dari kebutuhan primer, sekunder ataupun spiritualnya.

Dengan kecanggihan teknologi yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan spritual, hijrah menjadi sesuatu yang sangat fenomenal. Jika dulu, siraman rohani hanya bisa di dapat dengan mendatangi majelis-majelis pengkajian, sekarang cukup modal gadget, daya yang cukup dan kuota internet sudah bisa mendapatkan informasi-informasi sesuai yang di inginkan.

Dari sekian banyak orang yang telah merasa atau sekadar mengaku berhijrah, penulis merangkum beberapa pendapat dari orang-orang yang telah hijrah sebagai bahan referensi tulisan. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan dasar, akhirnya penulis mencoba mendesaing kata sederhana yang apa adanya bahwa hijrah itu seperti ini :
  • Berhijrah adalah meninggalkan semual hal buruk, baik itu lalai dari perintah agama atau terlena dengan maksiat. Lalu menuju pada keadaan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan yang telah di wahyukan dan di sunnahkan. Dalam istilah generasi kekinian, mereka menyebutnya move on dari kehidupan negatif menuju kehidupan positif dengan mendekatkan diri dan hati disisi Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati.

  • Alasan yang mendasari setiap orang dalam berhijrah sangat beragam. Ada yang karena ajakan orang tua dan keluarga, teman, pasangan hidup, karena di tinggal menikah oleh orang yang dikira jodohnya serta karena sering mendengar ceramah-ceramah yang tersaji dimedia sosial sampai meneteskan air mata. Adapula yang hijrah setelah tertimpah musibah atau mendapat ujian. Selalu saja ada sebab ketika Tuhan sudah rindu bermesra dengan hamba-Nya.

  • Tempat memulainya juga berbeda-beda, ada yang memutuskan menata hidup yang lebih baik sejenis hijrah di rumah, di dunia kampus bagi mahasiswa, di majelis-majelis kajian dan masih banyak lagi tempat-tempat lainnya untuk mengawali penataan hidup dengan lebih intens berkomunikasi dengan Tuhan.

  • Ada yang pro dan kontra, ada yang masih malu dan adapula yang sudah percaya diri tampil di muka umum dengan dandanan syar’i yang begitu terlihat santun dan sederhana. Menyikapi respon setiap orang atas perubahan yang dilakukan bagi mereka adalah hal yang wajar. Tugas manusia bukan untuk membuat manusia lain takjub atas apa yang dilakukan, tugas manusia sangat sederhana : menghamba (pada Tuhan) dan berbuat baik (kesesama mahkluk).

  • Sekaitan dengan rasa, resah dan bahagia adalah bagian terpenting dari rasa itu sendiri. Mereka yang telah berhijrah resah ketika melihat saudara-saudaranya masih dibuai gemerlapnya dunia, sementara ia hanya berdiam karena masih belum bisa berbuat apa-apa selain mengajak. Bahagia mereka adalah karena merasa lebih nyaman, terjaga, terhormat dan ragam lainnya.

Jika dahulu hijrahnya Nabi dan para sahabat karena terancam di tanah kelahirannya, saat ini orang-orang hijrah karena mereka mengaku pengikut Nabi tapi jauh dari apa yang telah di sunnahkan beliau. Hingga akhirnya mendapati dirinya dalam kehampaan, barulah sadar bahwa indahnya hidup adalah kematian yang Khusnul Khotimah.

Penulis disini bukanlah seorang yang pandai mengutip ayat suci atau hadits syahi, atau mengerti kitab-kitab, dia hanya seorang pendosa yang selalu berharap ampunan hingga diakhir nafas. Karena saling mengingatkan tidak selalu menggunakan suara yang lantang, terkadang lewat sebait dua bait kata hidayah-Nya kemudian menyambar dan menjelma menjadi secerca cahaya dihati yang harap selalu dijaga.

Sekadar penutup, sudah begitu banyak lika-liku hidup yang telah terlewati. Merasa diri baik-baik saja padahal begitu rapuh dengan kehilangan yang tidak disadari. Hingga pada suatu malam yang hening dan dingin, sepotong kalimat menguap dari dalam hati : Kemana saja aku selama hidupku?

Selamat berhijrah, teguhkan istiqomah.
Wallahu wa'lam bissawaf

(Pen : Liu Panama)

0 coment�rios:

Terima kasih telah berkunjung

View Post

PERTAMA DI SUL-SEL: PUSKESMAS SINOA BERINOVASI MEMBENTUK FMPP DAN SASKIA

Pertemuan antara Pengurus Forum Masyarakat Peduli Puskesmas dengan Camat Sinoa dan Kepala Puskesmas Sinoa yang bertempat di Puskesmas Sin...